Panasonic berasal dari Jepang, dan usianya sudah lebih dari satu abad. Perusahaannya berdiri pada 7 Maret 1918 dengan tiga orang di sebuah rumah dua lantai di Osaka, dan produk pertamanya cuma sebuah colokan listrik.
Ceritanya kami bagi dua. Bagian ini mengisahkan 1894 sampai 1945: masa muda pendirinya, colokan, lampu sepeda, dan merek National. Bagian kedua, 1946 sampai sekarang, mengisahkan masa sulit sesudah perang, Amerika, Sanyo, dan Gobel di Indonesia.
Peta waktu bagian pertama
| Tahun | Yang terjadi |
|---|---|
| 1894 | Konosuke Matsushita lahir di Wakayama |
| 1917 | Ia membuka usaha di rumah petak dua kamar; soket buatannya hampir tidak laku |
| 1918 | 7 Maret, usaha resmi berdiri dengan tiga orang |
| 1923 | Lampu sepeda berbentuk peluru |
| 1927 | Merek National lahir; setrika murah |
| 1929 | Tujuan manajemen dan prinsip perusahaan dirumuskan |
| 1945 | Perang berakhir; 32 pabrik dan kantor hilang |
1894: Anak bungsu yang dimagangkan sejak umur sembilan tahun
Konosuke Matsushita lahir 27 November 1894 di desa Wasamura, Wakayama, anak bungsu dari delapan bersaudara. Waktu ia berumur empat tahun, ayahnya kehilangan harta keluarga karena berspekulasi di bursa beras. Tiga tahun kemudian sang ayah merantau ke Osaka mencari pekerjaan.
Pada umur sembilan, beberapa bulan sebelum lulus sekolah dasar, Konosuke dipanggil ke Osaka dan dimagangkan, mula-mula di toko tungku hibachi, lalu di toko sepeda. Pemilik toko sepeda terkesan pada bakat dagangnya. Melihat trem listrik lalu-lalang di Osaka, ia memutuskan masa depannya ada di bidang listrik. Umur lima belas ia pindah ke perusahaan listrik Osaka, dan lima tahun kemudian ia menikahi Mumeno Iue, yang berumur sembilan belas. Di umur 22 ia sudah menjadi inspektur.
1917: Dua kamar kontrakan dan soket yang tidak laku
Saat masih bekerja, Konosuke merancang soket lampu yang lebih baik dan membuat contohnya. Atasannya bilang itu tidak berguna. Kesehatannya yang sering buruk membuatnya keluar untuk membuka usaha sendiri.
Juni 1917, bersama istri dan iparnya Toshio Iue (yang kelak mendirikan Sanyo), ia membuka usaha di rumah petak dua kamar di Osaka timur. Soketnya jadi, tetapi nyaris tidak ada yang membeli. Mumeno sampai harus menggadaikan barang berharga keluarga untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Menjelang akhir tahun datang pesanan pelat isolator untuk kipas angin dari sebuah pabrik besar. Konosuke mengerjakannya cepat dan teliti, pesanan ulang berdatangan, dan dari situ ia punya modal untuk memproduksi soketnya.
7 Maret 1918: Tiga orang, dua mesin pres, satu colokan
Pada 7 Maret 1918 Konosuke pindah ke rumah dua lantai yang lebih besar dan mendirikan Matsushita Electric Housewares Manufacturing Works. Anggotanya tiga: Konosuke (23 tahun), Mumeno (22), dan Toshio Iue yang baru 15. Tiga ruangan di lantai bawah mereka ubah menjadi bengkel, dengan dua mesin pres manual untuk mencetak isolator.
Konosuke yakin pasar perlengkapan listrik rumah tangga yang praktis dan bermutu masih terbuka lebar. Ia begadang merancang, lalu memilih dua produk baru: colokan dan soket dua arah. Keduanya laku karena kualitasnya lebih baik dan harganya 30 sampai 50 persen lebih murah daripada yang ada di pasar.
Colokan itu dicetak dari resin, rancangan yang tergolong baru untuk zamannya, dan bagian ulir logamnya memakai ulang ulir bola lampu bekas supaya presisi dan murah. Akhir 1918 karyawannya sudah dua puluh orang.
Awalnya produk dijual lewat satu grosir saja. Kerja sama itu retak ketika penjualan turun karena pesaing banting harga. Setelah Konosuke menjual langsung ke grosir lain, penjualan naik dan usahanya berdiri di atas kaki sendiri.
1923: Lampu sepeda berbentuk peluru dan sampel yang dititipkan
Konosuke begitu gemar membuat produk baru sampai menaruh pensil dan kertas di samping tempat tidur untuk mencatat ide yang datang saat tidur. Lampu sepeda berbentuk peluru lahir dari kesalnya pada lampu lilin di sepedanya sendiri, yang sering padam kalau ia pulang malam.
Lampu lilin dan lampu minyak adalah yang umum waktu itu. Lampu baterai sudah ada, tetapi tak bisa diandalkan dan baterainya habis dalam dua sampai tiga jam. Selama enam bulan ia membuat banyak model uji sampai sampai pada bentuk peluru yang menyala 30 sampai 40 jam dengan tiga baterai.
Masalahnya, lampu baterai punya citra buruk. Para grosir menolak. Konosuke lalu menitipkan sampel di toko-toko dengan perjanjian: beli hanya kalau lampunya terbukti bagus. Ia mempertaruhkan masa depan perusahaannya pada keyakinan itu. Para pedagang mendapati lampunya memang tahan, dan pesanan mulai mengalir.
September 1923 Gempa Besar Kanto menghancurkan jaringan penjualannya. Dua karyawan di Tokyo selamat dan pulang ke Osaka, dan awal 1924 Konosuke membuka kantor cabang Tokyo yang baru untuk membangun ulang jaringan itu.
1927: Dari mana nama National, dan setrika seharga 3,2 yen
Lampu peluru itu awalnya dijual lewat perusahaan dagang Yamamoto dengan merek “Excel”. Pemilik perusahaan itu menganggap lampunya sekadar tren sesaat, sedangkan Konosuke yakin pasarnya bertahan lama. Pandangan mereka bentrok. Ketika Konosuke mengembangkan lampu baterai persegi yang ingin ia pasarkan sendiri, Yamamoto menuntut ganti rugi 10.000 yen untuk melepas hak pasarnya. Konosuke membayar. Meski begitu ia tetap menghormati Yamamoto karena jujur dan adil.
Untuk lampu persegi itu ia butuh merek. Suatu hari ia menemukan kata Inggris “international” di koran, membukanya di kamus, dan mendapati kata dasarnya “national”, yang berarti “milik suatu bangsa”. Menurutnya itu cocok untuk produk yang ia yakini akan dibutuhkan di setiap rumah di negeri ini. Maka lahirlah merek National.
April 1927 ia memasarkannya dengan cara nekat: mengirim 10.000 sampel gratis ke toko-toko tanpa kewajiban membeli. Lampu itu laris, lebih dari 30.000 unit per bulan dalam tahun pertama.
Tahun yang sama perusahaan masuk ke alat pemanas listrik. Setrika waktu itu barang mewah: harganya 4 sampai 5 yen. Konosuke ingin setrika yang kualitasnya sama tetapi minimal 30 persen lebih murah. Insinyur Tetsujiro Nakao merancang elemen pemanas yang diapit pelat baja, dan Konosuke mematok harga 3,2 yen. Untuk itu pabriknya harus membuat 10.000 unit per bulan, lebih banyak daripada gabungan seluruh produsen listrik lain di Jepang. Idenya meminjam cara produksi massal Ford. Hasilnya laris. Berikutnya datang penghangat kaki berthermostat, produk konsumen berthermostat pertama di Jepang, dengan harga separuh pesaing.
Di tahun yang sama, ketika krisis keuangan Maret 1927 membuat banyak perusahaan runtuh, Konosuke menerbitkan dua majalah internal, satu untuk toko-toko pengecer dan satu untuk karyawan, supaya hubungan dengan mereka tetap erat.
1929: Perusahaan yang “dititipi” masyarakat
Tahun 1928 penjualan bulanan sudah melewati 100.000 yen dan karyawannya lebih dari 300 orang. Banyak distributor ingin menjual merek National saja, dan tanggung jawab perusahaan kepada mereka makin besar. Konosuke yang tadinya menganggap perusahaan ini urusan pribadi mulai melihatnya sebagai bagian dari masyarakat. Kesimpulannya: masyarakat telah menitipkan perusahaan ini kepada mereka, dan laba adalah imbalan karena berkontribusi pada masyarakat.
Maret 1929 perusahaan berganti nama menjadi Matsushita Electric Manufacturing Works, dan ia merumuskan Tujuan Manajemen dan Prinsip Perusahaan, yang kemudian ditambah Tujuh Prinsip. Menurut Panasonic, ketiga pernyataan itu hingga kini menjadi dasar filosofinya.
1933–1945: Dari Kadoma sampai reruntuhan perang
Tahun 1933 kantor pusat dan pabrik baru dibangun di Kadoma, Osaka. Tahun 1935 perusahaan resmi berganti nama menjadi Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., nama yang dipakai sampai 2008.
Perang Pasifik berakhir 15 Agustus 1945. Menurut Panasonic, perusahaan kehilangan 32 pabrik dan kantor di Jepang, terutama di Tokyo dan Osaka, sementara pabrik dan toko di luar negeri disita. Kantor pusat dan pabrik utama selamat. Karyawan menyusut dari 26.000 pada puncak masa perang menjadi 15.000 di akhir 1945.
Sehari setelah pengumuman menyerah, Matsushita mengumpulkan para manajer senior dan menyusun rencana memulai kembali produksi barang konsumen. Pada 20 Agustus ia menulis pesan untuk semua karyawan: produksi adalah fondasi pemulihan, mari bangkitkan kembali semangat Matsushita. Untuk bertahan, perusahaan sempat membuat roda gerobak dan rumah kayu prefabrikasi, usaha yang menurut Panasonic tidak berhasil.
Berikutnya: masa sulit sesudah perang
Yang menanti Matsushita bukan kemudahan, melainkan pembatasan dari pihak pendudukan, utang perang, dan ancaman dibubarkannya perusahaan. Ceritanya ada di Sejarah Panasonic 1946 sampai sekarang.
Kalau Anda mencari Panasonic
Saat ini katalog online kami belum memuat produk Panasonic yang tayang. Kalau Anda mencari Panasonic, tanyakan ketersediaannya lewat WhatsApp swissbaru.com karena stok bisa berubah, atau lihat pilihan kami di toko TV LED, toko AC, toko kulkas, dan toko mesin cuci.
Tanya produk Panasonic lewat WhatsAppCOD gratis dalam kota Manado, bayar saat barang sampai.
Datang langsung ke toko
Swiss 45
Jl. Walanda Maramis No.35, Manado
(sesudah presiden sebelum jalan roda pas di bok jalan)
Google Maps: https://g.page/swissbaru
WA Toko Swiss 45: https://wa.me/6282346957090
Buka: Senin-Sabtu, 09.00-18.30 WITA
Swiss Kairagi
Jl. A.A. Maramis No.78, Manado
(kalau dari pusat kota, sebelah kiri sebelum pomben poli/lippo plaza)
Google Maps: https://goo.gl/maps/CS2aqp65wVY2Mswo8
WA Toko Swiss Kairagi: https://wa.me/6281251191189
Buka: Senin-Sabtu, 09.00-19.00 WITA
Order Sekarang? Klik No WA dibawah. Dalam kota Manado Free Ongkir ne kak.
WA swissbaru.com: 085342848866
Sumber yang kami baca
Diperiksa 18 Oktober 2026. Tahun dan angka dapat berbeda antar sumber; bila berbeda, kami menyebutkannya di teks.
- Panasonic Holdings: Panasonic Group History
- Panasonic 100-Year Journey: 1894, kelahiran sampai pendirian
- Panasonic 100-Year Journey: 1918, Panasonic berdiri
- Panasonic 100-Year Journey: 1923, lampu sepeda peluru
- Panasonic 100-Year Journey: 1927, merek National dan setrika
- Panasonic 100-Year Journey: 1929, tujuan manajemen dan prinsip perusahaan
- Panasonic 100-Year Journey: 1945, bangkit dari abu
