Sony berasal dari Jepang. Tapi yang lebih menarik, salah satu proyek pertamanya adalah penanak nasi listrik yang nasinya matang tidak merata. Perusahaan yang sekarang kita kenal lewat Walkman dan PlayStation itu bermula dari satu ruangan tanpa kaca jendela.
Ceritanya panjang, jadi kami bagi tiga. Yang ini 1945 sampai 1960. Bagian kedua: 1960 sampai 1989. Bagian ketiga: 1990 sampai sekarang, lengkap dengan kisah Sony di Indonesia.
Peta waktu bagian pertama
| Tahun | Yang terjadi |
|---|---|
| 1945 | Ibuka dan Morita bertemu; Ibuka membuka bengkel di lantai tiga toko Shirokiya |
| 1946 | 7 Mei, Tokyo Tsushin Kogyo berdiri dengan modal 190.000 yen |
| 1950 | Perekam pita magnetik pertama di Jepang (tipe G) |
| 1953–1955 | Hak transistor dibeli, nama SONY lahir, radio transistor pertama Jepang (TR-55) |
| 1957–1958 | Radio saku TR-63, lalu perusahaan resmi bernama Sony |
1945: Dua orang bertemu di akhir perang
Tahun 1945 Perang Dunia II hampir berakhir. Di sebuah gedung pertemuan di Marunouchi, Tokyo, berlangsung rapat komite riset teknik masa perang. Masaru Ibuka, insinyur non-militer yang menjabat direktur pelaksana perusahaan alat ukur Nihon Sokuteiki, bertemu Akio Morita, perwira muda Angkatan Laut.
Usia mereka terpaut tiga belas tahun, tetapi keduanya langsung cocok. Ibuka terkesan pada pendapat Morita yang tajam, dan Morita kagum pada wawasan teknik Ibuka. Lalu pada 15 Agustus perang berakhir, komite bubar, dan kontak mereka terputus dalam kekacauan.
Oktober 1945: Satu ruangan di lantai tiga, jendela tanpa kaca
Ibuka pulang ke Tokyo bersama rekan-rekannya. Mereka menyewa ruangan sekitar tiga puluh meter persegi di lantai tiga toko serba ada Shirokiya, Nihonbashi. Jendelanya belum berkaca. Pelan-pelan ruangan itu terisi perabot dan rekan lama, dan pada Oktober 1945 papan namanya terpasang: Tokyo Tsushin Kenkyujo, Lembaga Riset Telekomunikasi Tokyo.
Ibuka tahu perusahaan raksasa sebelum perang pasti bangkit lagi, jadi bersaing langsung bukan pilihan. Ia mencari pekerjaan yang tidak dilirik perusahaan-perusahaan itu. Yang pertama: memodifikasi radio supaya bisa menangkap siaran gelombang pendek, karena orang haus kabar dari luar negeri. Setelah dimuat di koran Asahi Shimbun, pesanan berdatangan. Itulah produk laris pertama mereka.
Lalu penanak nasi tadi. Wujudnya panci kayu dengan elektroda aluminium di dasarnya, dan nasinya matang tidak merata. Ibuka sendiri menyebutnya “prototipe gagal nomor 1”.
Sementara itu Morita, yang sudah pulang ke Aichi, kebetulan membaca artikel itu di koran dan langsung menulis surat kepada Ibuka. Hubungan mereka tersambung lagi.
7 Mei 1946: Perusahaan berdiri, ayah Morita merelakan anaknya
Ada satu masalah besar. Morita anak sulung keluarga pembuat sake sejak zaman Edo, dan seharusnya mewarisi usaha ayahnya. Ibuka, Morita, dan mertua Ibuka naik kereta malam berjendela pecah ke Aichi, perjalanan yang membuat mereka penuh jelaga. Ibuka menceritakan impiannya. Jawaban sang ayah di luar dugaan: ia memang selalu berharap anaknya meneruskan usaha sake, tetapi kalau anaknya merasa harus berkembang di tempat lain, lakukan saja apa yang paling ia inginkan.
Maka pada 7 Mei 1946 berdirilah Tokyo Tsushin Kogyo, disingkat Totsuko. Modalnya 190.000 yen, karyawannya sedikit lebih dari dua puluh orang. Ibuka menulis prospektus tentang “pabrik ideal” yang bebas dan terbuka, tempat insinyur bisa bekerja sebaik-baiknya. Pegangannya sederhana: kalau mengerjakan hal yang sama dengan raksasa, mereka pasti kalah, tetapi di bidang teknologi selalu ada celah yang tidak diambil perusahaan besar.
1946–1949: Bantal pemanas dengan nama samaran
Uang selalu seret. Tabung hampa untuk voltmeter pesanan pemerintah dicari dari sisa-sisa gudang militer di pasar gelap, dan voltmeter yang sudah jadi dibawa berjalan kaki ke laboratorium penguji. Untuk mendapat uang tunai dari konsumen, Ibuka membuat bantal pemanas listrik dari kawat nikel-kromium yang diapit dua lapis kertas Jepang.
Mereka tidak berani memasang nama Totsuko, jadi bantalnya dijual atas nama “Ginza Nessuru Shokai”, Perusahaan Pemanas Ginza. Laris, karena saat itu apa saja laris. Masalahnya, bantal itu sering menghanguskan selimut, sampai Ibuka sulit tidur memikirkan bantalnya terbakar.
Januari 1947 kantor dan dua pabrik yang terpencar akhirnya disatukan di sebuah pabrik tua di Gotenyama, Shinagawa, yang lantainya berlubang dan atapnya bolong sampai bintang kelihatan. Dari sana mereka mengerjakan banyak pesanan, termasuk memperbaiki ruang siaran dan meja mixer NHK, pekerjaan yang diam-diam memberi bekal ilmu audio. Oktober 1947 penjualan mencapai 3,53 juta yen dengan laba lima puluh ribu yen, dan dividen pertama dibagikan kepada 62 pemegang saham. Dua tahun kemudian berdiri gedung kayu dua lantai yang mereka sebut “pabrik di atas bukit”.
1950: Perekam pita pertama di Jepang
Pada 1950 Totsuko merilis tipe G, perekam pita magnetik pertama buatan Jepang. Pembelinya kantor pemerintah, sekolah, dan stasiun siaran. Sebagai balas budi atas dukungan dunia pendidikan, pada 1959 Ibuka mendirikan dana untuk pendidikan sains di sekolah dasar.
1952–1954: Taruhan pada benda kecil bernama transistor
Tahun 1952 Ibuka pertama kali ke Amerika. Di sana ia mendengar kabar yang tidak ia cari: Western Electric, perusahaan tempat laboratorium Bell yang terkenal bernaung, menawarkan lisensi transistor. Harganya 25.000 dolar, sekitar sembilan juta yen saat itu, jauh di atas kemampuan Totsuko. Tetapi Ibuka punya pertimbangan: perusahaannya sudah punya banyak ilmuwan muda dari berbagai bidang, dan transistor adalah tantangan yang cocok untuk mereka.
Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Jepang (MITI) menolak memberi izin. Menurut mereka, transistor terlalu canggih untuk pabrik bobrok berumput liar, dan yang pantas mengerjakannya hanya raksasa seperti Toshiba, Mitsubishi, dan Hitachi. Yang tidak disangka, perwakilan Totsuko di New York, Shido Yamada, terus mendatangi Western Electric dan bercerita tentang perusahaan kecil ini dan perekam pitanya. Western Electric terkesan dan akhirnya setuju. Tahun 1953 Morita terbang ke Amerika dan meneken kontrak sementara, yang baru sah setelah izin kementerian turun. Setelah itu ia mampir ke Eindhoven di Belanda, markas Philips. Melihat perusahaan elektronik sebesar itu tumbuh dari kota kecil tempat orang bersepeda, ia menulis kepada Ibuka bahwa mereka pun pasti bisa.
Sepulang Morita, Ibuka memutuskan: “Kita buat radio.” Alasannya, kalau bertaruh pada transistor, buatlah sesuatu yang bisa dibeli siapa saja. Masalahnya, transistor berfrekuensi tinggi untuk radio belum ada. Pegangan mereka cuma sebuah buku, Transistor Technology, dan laporan dari insinyur Kazuo Iwama yang sedang berkeliling pabrik Western Electric di Amerika. Iwama dilarang menggambar mesin, jadi tiap malam di kamar hotel ia menuliskan semua yang ia ingat dan mengirimnya ke Tokyo, berhalaman-halaman, hampir setiap beberapa hari.
Tim di Tokyo membuat mesinnya sendiri, termasuk mesin pengiris kristal dari batu asah berlian dan mesin frais karatan dari toko perkakas. Getaran pertama transistor buatan sendiri tercatat seminggu sebelum Iwama pulang. Semua orang terdiam gembira melihat jarum alat ukur bergerak. Kabar buruknya datang akhir 1954: radio transistor pertama dunia, Regency dari Amerika, sudah dijual. Totsuko kalah dalam perlombaan menjadi yang pertama, tetapi masih punya waktu memperbaiki desain.
1955: Nama SONY lahir, dan sebuah tawaran ditolak
Makin sering ke luar negeri, jelas bahwa nama “Totsuko” susah diucapkan orang asing. Mereka mencari nama yang pendek, mudah dilafalkan, dan terbaca di bahasa mana pun. Nama dua huruf terasa janggal, nama tiga huruf hampir semuanya sudah dipakai, dan singkatan TKK sudah milik perusahaan kereta Jepang. Jatuhlah pilihan pada empat huruf, gabungan kata Latin sonus (bunyi) dan kata Inggris sonny, anak laki-laki, yang menggambarkan perusahaan kecil beranggotakan anak-anak muda. Lahirlah SONY.
Morita membawa purwarupa radio bermerek Sony ke Amerika. Di sana sebuah perusahaan jam tangan besar menawar seratus ribu radio, dengan satu syarat: dijual dengan merek mereka, karena merek mereka sudah dipercaya lebih dari lima puluh tahun. Morita menolak lewat telepon, padahal perintah dari Tokyo adalah mengamankan kesepakatan. Alasannya, mereka baru mengambil langkah pertama menuju lima puluh tahun ke depan, dan dalam lima puluh tahun itu nama Sony akan sama terkenalnya. Lagi pula pabrik mereka belum sanggup membuat seratus ribu unit.
September 1955 lahirlah TR-55, radio transistor pertama Jepang, versi perbaikan dari purwarupa TR-52 yang casingnya melengkung dimakan panas. Totsuko menjadi perusahaan pertama di dunia yang membuat semuanya sendiri, dari transistor sampai radio jadi. Transistornya juga dijual ke produsen elektronik lain di Jepang, dengan perkenalan dari presiden Hayakawa Electric, yang kini kita kenal sebagai Sharp. Lewat perkenalan itu, transistor dan radio mereka bisa diperlihatkan kepada para pemimpin Matsushita (sekarang Panasonic) dan Sanyo.
1957–1958: Radio saku, papan neon, dan nama baru
Maret 1957 meluncur TR-63, radio transistor terkecil di dunia saat itu. Kata “pocket” sudah dipakai di Amerika dan “portable” sudah dipakai produk sebelumnya, jadi Sony mengarang kata baru: pocketable. Dijual 39,95 dolar di luar negeri, radio ini laris sampai pengiriman akhir tahun tidak terkejar dan Sony harus mencarter pesawat. Morita juga meneken kontrak panjang dengan Agrod Electronics, salah satu distributor elektronik terbesar Amerika, dengan syarat radionya dijual atas nama Sony, padahal produk Jepang waktu itu umumnya dijual dengan merek lokal.
29 Desember 1957, di persimpangan Sukiyabashi, Ginza, huruf neon SONY sepuluh meter di tiap sisinya menyala untuk pertama kali. Biayanya 20 juta yen. Dua hari kemudian siaran malam tahun baru NHK kebetulan menyorot papan itu ke jutaan rumah. “Itu sudah balik modal,” kata Ibuka sambil tertawa. Awal 1958 perusahaan resmi berganti nama menjadi Sony Corporation, meski sebagian orang di dalam menentang membuang nama yang sepuluh tahun dibangun. Morita menolak menambah kata seperti “elektrik” di belakang nama, karena ia belum tahu apa saja yang akan dibuat perusahaannya kelak.
Radio TR-610 pada Juni 1958 dikirim ke Amerika dan Eropa lebih dulu daripada dijual di Jepang, dan terjual lima ratus ribu unit dalam dua tahun. Di tahun yang sama sebuah artikel jurnal menyebut Sony “kelinci percobaan”: yang membuka jalan, lalu disalip Toshiba yang menanam modal besar setelah transistor terbukti menguntungkan. Ibuka sempat marah, lalu belakangan justru bangga. Baginya semangat kelinci percobaan, terus mencoba hal baru, adalah jati diri Sony. (Kisah Toshiba sendiri ada di sini.)
Dari radio ke Amerika
Sampai 1958 Sony masih membuat radio, perekam pita, dan sedikit lainnya. Dua tahun kemudian Sony mendirikan perusahaan sendiri di Amerika, dengan kantor sempit dan keberanian besar. Lanjutannya ada di Sejarah Sony 1960 sampai 1989.
Kalau Anda mencari Sony
Saat ini katalog online kami belum memuat produk Sony yang tayang. Kalau Anda mencari Sony, tanyakan ketersediaannya lewat WhatsApp swissbaru.com karena stok bisa berubah, atau lihat pilihan kami di toko TV LED, toko AC, toko kulkas, dan toko mesin cuci.
Tanya produk Sony lewat WhatsAppCOD gratis dalam kota Manado, bayar saat barang sampai.
Datang langsung ke toko
Swiss 45
Jl. Walanda Maramis No.35, Manado
(sesudah presiden sebelum jalan roda pas di bok jalan)
Google Maps: https://g.page/swissbaru
WA Toko Swiss 45: https://wa.me/6282346957090
Buka: Senin-Sabtu, 09.00-18.30 WITA
Swiss Kairagi
Jl. A.A. Maramis No.78, Manado
(kalau dari pusat kota, sebelah kiri sebelum pomben poli/lippo plaza)
Google Maps: https://goo.gl/maps/CS2aqp65wVY2Mswo8
WA Toko Swiss Kairagi: https://wa.me/6281251191189
Buka: Senin-Sabtu, 09.00-19.00 WITA
Order Sekarang? Klik No WA dibawah. Dalam kota Manado Free Ongkir ne kak.
WA swissbaru.com: 085342848866
Sumber yang kami baca
Diperiksa 18 Oktober 2026. Tahun dan angka dapat berbeda antar sumber; bila berbeda, kami menyebutkannya di teks.
